Pages

Selasa, 04 September 2012

Membentuk Pribadi yang Tegar


Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang tegar dan tidak mudah menyerah. Sebenarnya, tidak sulit untuk mewujudkan hal tersebut

Dalam sebuah dongeng klasik Jerman, alkisah ada seorang anak laki-laki bernama Hans yang rela menukar emas yang dimilikinya dengan seekor keledai. Tidak lama kemudian, keledai itu ditukar lagi oleh Hans dengan seekor sapi, yang lalu ditukarnya lagi dengan seekor babi. Tidak selesai di sini, Hans kemudian menukar babinya dengan angsa, dan angsa ditukar dengan batu, yang akhirnya dicemplungkan ke dalam sumur.

Meski kehilangan harta bendanya, di akhir cerita, Hans digambarkan merasa bahagia karena ia tidak harus membawa apa pun yang memberatkan dirinya.

Mendengar cerita itu, kita mungkin berpikir: betapa bodohnya Hans yang membiarkan dirinya kehilangan harta benda. Namun, terlepas dari "kebodohan" Hans, di balik kisah ini ada satu pelajaran yang positif: meski pun melakukan kesalahan demi kesalahan, Hans tetap sanggup merasa bahagia karena ia dapat menerima kesalahannya dan mengambil sisi positif dari kesalahan tersebut.

Manusia Tahan Banting. Individu seperti Hans, dalam istilah psikologi disebut resilient type person atau individu tipe elastis yang memiliki sifat tahan banting dan tidak mudah hancur saat mendapat tekanan kuat dalam kehidupan.

Dalam kehidupan nyata, individu berkarakter seperti Hans bisa ditemukan. Misalnya, pada sebuah penelitian di Hawaii terhadap 210 anak-anak dari keluarga miskin dan sengsara - sebab mengalami child abuse - ditemukan bahwa 1/3 dari jumlah responden tumbuh menjadi manusia yang berprestasi, optimis dan penuh kasih sayang, sehingga meraih keberhasilan dalam hidup.

Para peneliti mencari tahu, apa yang membedakan 1/3 responden yang berhasil tersebut dengan 2/3 responden yang tetap berada dalam kemiskinan dan sengsara. Ditemukan fakta, anak-anak yang tetap kuat melewati segala ujian di dalam hidupnya, ternyata adalah anak-anak yang memiliki seseorang di luar dirinya, yang begitu menyayangi dan dapat diandalkan, baik itu sosok kakek, tetangga, atau guru di sekolah. Para ahli lalu menyimpulkan, agar bisa survive dalam hidup dan meraih kebahagiaan, setiap anak membutuhkan sedikitnya satu orang manusia yang memiliki kepedulian yang dalam kepadanya.

Hasil penelitian berikutnya menyebutkan, bahwa jika seorang anak, sejak di dalam kandungan, telah memiliki hubungan yang kuat dan aman dengan ibunya, ayahnya atau keduanya, maka benih-benih untuk menjadi individu yang kuat dan tegar akan terbentuk di dalam diri anak tersebut, dan akan dibawanya sampai lahir.

Memberi anak kasih sayang, memerhatikan kemajuan yang dicapainya, mendukung segala kemampuannya dan tetap mencintainya meski pun ia berbuat kesalahan atau memiliki kekurangan, akan membuat anak kuat dan sanggup bertahan dalam hidupnya.

Psikolog dan penulis Katharina Zimmer, menyebut cara merawat anak seperti itu dengan sebutan “cara mendidik menurut model kekuatan dan kepercayaan”. Menurut Zimmer, "Model cara mendidik yang berlawanan dengan model ini adalah “cara mendidik menurut model defisit”, dimana orangtua selalu melihat dan memfokuskan diri pada kelemahan dan kekurangan anak."

| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

About Me

Foto saya
Belajar dari kesalahan, mengendalikan diri dan menerima kekurangan orang lain adalah hal besar yang perlu dipelajari. Teruslah Berkarya dan Anggap Suatu Masalah Sebuah Seni Kehidupan. Djanggan Cahya Buana, 21 Desember.

Artikel

Berpikir dan Berjiwa Besar Percaya Anda dapat berhasil, Keberhasilan seseorang ditentukan oleh besarnya cara berpikir seseorang, Keraguan, ketidakpercayaan, keinginan bawah sadar untuk gagal, perasaan tidak benar-benar ingin berhasil, bertanggung jawab atas sebagian besar kegagalan. Berpikir ragu maka Anda gagal. Berpikir menang maka Anda berhasil. Kepercayaan diri berhubungan dengan rasa berharga dalam diri manusia. Setiap orang adalah produk dari pikirannya. Percayalah akan hal-hal yang besar. Langkah pertama (dasar) menuju keberhasilan adalah percayalah kepada diri sendiri, percayalah bahwa Anda dapat berhasil.
Ada kesalahan di dalam gadget ini